Menuju 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia.
Dibuat Oleh:
Nama: Nurina Ayuningtyas
NIM : 165150400111015
Cluster: 29
Kelompok: 53
Dibuat Oleh:
Nama: Nurina Ayuningtyas
NIM : 165150400111015
Cluster: 29
Kelompok: 53
Ada
yang spesial pada tanggal 17 Agustus 2045, seperti yang kita sudah ketahui
tanggal 17 Agustus adalah tanggal dimana Soekarno membacakan teks proklamasi
yang sekaligus menandakan kemerdekaan Indonesia. Para pejuang kemerdekaan telah
mengeluarkan keringat, air mata dan darahnya sehingga Indonesia bisa sampai
pada kemerdekaannya pada saat itu. Lalu apa yang membuat tanggal 17 Agustus
pada tahun 2045 spesial? Pada tanggal 17 Agustus 2045, Indonesia akan merayakan
100 tahun kemerdekaanya. Pada tahun ini pulalah demografik rentang usia Indonesia
meraih jakpot, dimana penduduk usia produktif lebih banyak daripada penduduk
usia tua. Menurut Badan Pusat Statistik, pada tahun 2011 jumlah usia anak yang
berumur 0-9 tahun adalah 45,93 juta, sedangkan usia 10-19 tahun berjumlah 43,55
juta. Generasi inilah yang nantinya akan mempunyai andil besar dalam
mewujudukan Generasi Emas 2045, karena nantinya pada 2045 anak-anak yang
berusia 0-9 tahun akan berusia 35-45 tahun dan yang berusia 10-19 tahun akan
berusia 45-54 tahun dimana merekalah yang akan menjadi pengatur roda
pemerintahan Indonesia.
Tentu
ada banyak sekali yang harus dilakukan untuk membuat Generasi Emas Indonesia
2045 tidak hanya menjadi wacana belaka tetapi berhasil menjadi kenyataan yang dapat
dilihat dan dirasakan oleh para penduduk Indonesia. Pemerintah Indonesia telah
aktif membuat berbagai program yang dapat mengarahkan generasi sekarang menjadi
generasi yang mampu bersaing dalam kancah internasional dengan bermodalkan
kecerdasan yang dapat berguna bagi kesejahteraan bangsa Indonesia. Usaha untuk mewujudkan Generasi Emas
Indonesia 2045 sudah mulai dilakukan sejak 7 tahun lalu ketika alokasi untuk
pendidikan menjadi 20 % dari penghasilan negara untuk mewujudkan pendidikan
dini gratis dan membuat dana BOS yang ditujukan untuk membantu murid sekolah
menengah pertama dan sekolah menengah atas menjadi lebih efisien.
Dalam
mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045 pemerintah telah melakukan banyak upaya, salah
satunya adalah pembaruan ketentuan wajib belajar 9 tahun yang ditetapkan oleh Departemen
Pendidikan Nasional pada masa pemerintahan Presiden ke-6 Indonesia yaitu Susilo
Bambang Yudhoyono menjadi wajib belajar 12 tahun. Hal ini berarti seorang anak
wajib menempuh pendidikan mulai dari sekolah dasar kelas satu, sampai sekolah
menengah atas kelas dua belas. Dibalik ketentuan yang sudah mulai berlaku pada
Juni 2015 ini terdapat keinginan untuk memaksimalkan keunggulan demografik
negara Indonesia. Target dari dibuatnya ketentuan ini adalah mengirim lebih
banyak, atau kalau bisa semua anak berumur 16 sampai 18 tahun untuk menempuh
pendidikan di Sekolah Menengah Atas pada tahun 2020, sehingga seluruh penduduk
Indonesia paling tidak telah menempuh jenjang pendidikan sampai SMA.
Menurut
saya, Generasi Emas Indonesia 2045 bukanlah hal yang mustahil. Memang sulit
untuk diwujudkan, tetapi tidak mustahil jika semua pihak yang bersangkutan mau
bekerjasama dan berkontribusi pikiran dan tenaga untuk membuat rencana ini
berhasil. Hal yang terpenting dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia adalah
pendidikan. Sekarang, generasi emas yang dimaksud adalah anak-anak yang masih
menduduki bangku sekolah dan kuliah. Jika Indonesia ingin memperbaiki sesuatu,
hal yang pertama harus diperbaiki adalah sistem pendidikannya. Kenyataannya
sistem pendidikan Indonesia masih terlalu memfokuskan muridnya untuk menguasai
hardskill saja. Padahal untuk bisa bertahan di persaingan dunia nyata seseorang
harus menguasai hardskill dan juga softskill. Pemerintah harus membuat sistem
pendidikan Indonesia menjadi lebih seimbang antara pengajaran hardskill dan
softskillnya.
Seperti
yang dikatakan oleh mantan Menteri Pendidikan dan Budaya, Muhammad Nuh bahwa
pendidikan ibaratnya seperti lift sosial raksasa yang dapat mengangkat harga
diri seseorang. Dengan pendidikan yang lebih tinggi, seseorang bisa mendapatkan
pekerjaan yang lebih baik, gaji yang lebih besar, dan secara keseluruhan kehidupan
yang lebih terjamin.
Selain
wajib belajar dua belas tahun, pemerintah juga telah mencanangkan Grand Design
untuk menyiapkan Bangkitnya Generasi. Grand Design tersebut yang telah
dicanangkan adalah yang pertama pendidikan usia dini yang digencarkan, dengan
cara melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk memasukan anaknya ke PAUD, hal ini dibarengi dengan peningkatan kualitas
PAUD dan pendidikan dasar yang berkualitas dan merata, yang kedua adalah rehabilitasi
gedung-gedung sekolah yang sudah tak layak pakai dan pembangunan gedung-gedung
sekolah secara besar-besaran, yang ketiga adalah Intervensi peningkatan angka
partisipasi kasar (APK) untuk SMA dan atau sederajat dengan target sebesar 97%
tahun 2020. Yang diperkirakan jika tanpa intervensi baru akan mencapai 97%
tahun 2040. Kemudian yang terakhir adalah peningkatan APK perguruan tinggi
dengan meningkatkan akses, keterjangkauan dan ketersediaan.
Dalam
Grand Design tersebut, anak-anak berumur 0-9 tahun merupakan target yang
diutamakan karena. Anak-anak pada usia tersebut cenderung belum terkontaminasi
oleh hal-hal negatif yang ada di lingkungannya. Tujuannya adalah untuk
membekali anak-anak tersebut tidak hanya dengan pendidikan akademik tetapi juga
pendidikan moral yang sangat kuat sehingga dapat membuka mata mereka untuk
tidak mengikuti pengaruh-pengaruh negatif yang ada di lingkungannya. Hal ini
juga merupakan salah satu cara untuk menghadapi dunia yang sudah berbasis IT
dimana siapapun dapat mengakses informasi apapun dengan mudah. Orang tua sudah
tidak bisa melindungi anaknya dengan cara tidak memaksanya untuk tidak
memperbolehkan ini atau itu, karena tanpa pendidikan moral yang tepat, anak bisa
saja mengakses informasi dengan cara yang mungkin tidak terpikirkan orang
tuanya. Sehingga sulit bagi orang tua untuk membatasi informasi yang didapat
anak, jadi hal yang paling tepat dilakukan adalah membekali anak dengan akhlak
dan budi pekerti sehingga dia sadar akan akibat yang akan ia tanggung jika ia
melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan.
Sedangkan
bagi pendidikan pada tingkat perguruan tinggi yang masih belum bisa dirasakan
oleh banyak penduduk Indonesia karena masalah biayanya yang terlampau tinggi,
pemerintah telah menyediakan Program Beasiswa Unggulan. Program ini mempunyai
visi yaitu untuk melahirkan insan cerdas dan kompetitif yang dapat
berkontribusi kepada daya saing bangsa.
Program-program
yang sudah dibuat pemerintah untuk mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045
tidak akan berjalan dengan baik jika kita, selaku generasi yang dimaksud
sebagai generasi emas disini pasif dan hanya menanyakan apa yang dapat diberi
oleh negara ini untuk kita dan malah sibuk memikirkan hal-hal sepele yang
sering kali menjadi distraksi dari permasalahan yang seharusnya dihadapi. Kita
adalah mahasiswa. Garda depan generasi emas yang harus aktif berkontribusi
untuk bangsa yang sedang dalam masa pertumbuhan untuk menjadi bangsa yang maju
dan mampu bersaing dengan negara-negara maju lainnya.
Sebagai
mahasiswa hal yang dapat kita lakukan untuk mewujudkan Generasi Emas Indonesia
2045 harus dimulai dari diri kita sendiri, kita harus melihat ke cermin dan
merubah hal-hal negatif yang ada di diri kita terlebih lagi kebiasaan-kebiasaan
yang mempunyai lebih banyak keburukannya dari pada manfaatnya. Memang sulit
untuk mengubah suatu kebiasaan yang sudah mengakar dari kecil tetapi jika kita
berkomitmen dan berusaha sekuat tenaga, hal tersebut tentu saja dapat diwujudkan.
Kita juga harus aktif dan melek akan keadaan sekitar sehingga kita tau hal apa
yang harus dilakukan untuk membuat bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik
lagi.
Referensi:
Surat
Kabar: Anita Rachman. 2012. Education
Key to Future of ‘Golden Generation’
http://jakartaglobe.id/archive/education-key-to-future-of-golden-generation/
Internet:
Patria Maya Sari. 2014. Apakah Generasi Emas itu?.
https://patriamaya27.wordpress.com/2014/07/10/apakah-generasi-emas-itu/
Internet:
Samer- Al Sammarai. 2013. Awakening Indonesia’s Golden Generation: Extending
Compulsory Education from 9 to 12 Years.
http://blogs.worldbank.org/education/awakening-indonesia-s-golden-generation-extending-compulsory-education-9-12-years
No comments:
Post a Comment